SELATPANJANG-Kerusakan hutan mangrove (bakau) di Kabupaten Kepulauan Meranti sudah sangat mengkhawatirkan. Sebab, kayu bakau yang ada terus ditebangi dan dijadikan sebagai bahan baku arang untuk diekspor. Akibat dampak kerusakan ekosistem hutan bakau inilah yang kemudian menjadi alasan pemerintah melarang eksploitasi bakau.
Di sisi lain, larangan tersebut malah menutup periuk nasi masyarakat yang telah puluhan tahun melakoni pekerjaan tersebut, menebang bakau dan mengolahnya menjadi arang. Nawir misalnya. Dia mengaku sudah belasan tahun menggantungkan hidup dari hutan bakau.
Setiap hari dirinya mendayung sampan belasan kilometer masuk dalam anak sungai untuk mencari bakau dan nyirih untuk kemudian ditukarkan menjadi rupiah di panglong arang sekitar sungai Pulau
Merbau.
Dalam sehari, Nawir berhasil mengumpulkan bakau antara 700 Kg sampai satu ton. Untuk bakau yang menjadi bahan utama arang biasanya dihargai Rp150 perkilogramnya. Sedangkan untuk jenis kayu Nyirih hanya Rp100 perkilogram, karena jenis kayu Nyirih hanya dijadikan bahan bakar untuk memasak arang. "Harga belinya murah dan tidak naik-naik, sedangkan kayu makin susah
dicari," keluh Nawir kepada FokusRiau.Com, Kamis (26/3/2015) di Selatpanjang.
Nawir hanya satu dari ratusan bahkan mungkin ribuan masyarakat Meranti yang menggantungkan hidup pada mangrove dan arang. Dalam sehari, penebang maupun pekerja lepas di industri arang hanya mampu mengantongi Rp40.000 sampai Rp100.000.
Sementara salah seorang pengelola panglong arang di Sungai Terus Pulau Merbau, Ayau (48) mengaku, sekali produksi dapat mencapai 50-60 ton arang dari tiga dapur miliknya. Panglong Arang kini masih terus beroperasi di Meranti dan masyarakat juga masih terus menebang bakau untuk dijadikan arang. Akibatnya, setiap hari abrasi pantai di Meranti terus berlanjut sebagai imbas menipisnya hutan bakau.
Terhadap persoalan ini, Kepala Dinas Kehutanan Meranti, Makmun Murot ketika dikonfirmasi sedang tidak berada di tempat. (azw)

home
Home
Posting Komentar