MESKIPUN sudah merdeka 68 tahun, namun persoalan ketersediaan energi, terutama listrik di Indoneia tak kunjung teratasi dengan baik. Bahkan, dari masa ke masa listrik terus menimbulkan persoalan yang kian rumit diselesaikan. Krisis listrik terjadi di hampir seluruh daerah di negeri ini, mungkin kecuali provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Bali.
Kabupaten Pelalawan juga tak selamat dari 'badai' krisis listrik. PT PLN (Persero) 'tengkulak tunggal' strum tersebut lebih banyak mengandalkan PT Riau Andalan Pulp And Paper (RAPP) menjadi 'juru selamat' mengatasi ketersediaan listrik di kabupaten beribukotakan Pangkalan Kerinci tersebut.
Sampai saat ini, di saat kabupaten yang dulu dimekarkan dari Kabupaten Kampar berusia 14 tahun, baru 25 persen kawasannya teraliri arus listrik. Selebihnya masih hidup 'di jaman batu'. Tanpa listrik sama sekali atau menghadirkan energi listrik dengan cara swadaya.
Kondisi itulah yang menjadi perhatian serius dari Bupati Haji Muhammad Harris. Dalam pandangannya, listrik adalah kunci dari kemajuan sebuah daerah, selain infrastruktur jalan dan jembatan. Hidup di masa sekarang dan terlebih di masa mendatang akan semakin tergantung pada ketersediaan listrik.
Berangkat dari pemikiran itulah, sejak diberi amanah menjadi orang nomor satu di kabupaten dengan sejarah masa lalu yang gemilang tersebut, M Harris sudah menetapkan harapan, bahwa daerahnya harus mampu mengatasi krisis energi. Berjuang keras utuk mewujudkan swasembada listrik.
Teringatlah Ketua DPD Partai Golkar Pelalawan tersebut akan sumber daya alam daerahnya yang melimpah berupa gas. Ketersediaan bahan baku yang melimpah diyakininya menjadi solusi terbaik dari impian mulia membawa masyarakat Pelalawan 'dari gelap menuju terang'. Maka, terlahirlah gagasan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas atau PLTG.
Semula semua seolah akan begitu mudah diwujudkan. Sebagai kepala daerah, Bupati M Harris mestinya tak susah melaksanakan program strategis tersebut. Tetapi dugaannya meleset. Tak mudah membangun kesepahaman dengan banyak pihak terkait 'mimpi masa depan' tersebut. Ide yang disampaikan dalam sejumlah diskusi terkesan dianggap bagai pungguk merindukan bulan. Jauh panggang dari api. Program bertajuk 'Pelalawan Terang' dianggap sebatas konsep.
Tetapi bukan M Harris kalau mudah lempar handuk, menyerah. Dalam berbagai kesempatan ia tiada henti berusaha meyakinkan adanya potensi besar yang dimiliki Pelalawan untuk mewujudkan mimpinya terang benderang di masa mendatang. Semua pihak terkait diajaknya bicara. Diyakinkannya mengenai pentingnya listrik dan menyediakannya dengan jumlah cukup adalah sebuah keniscayaan bagi kemajuan sebuah daerah.
Belum juga banyak pihak mendukung Program Pelalawan Terang. Bupati M Harris tak patah arang. Untuk menunjukkan keseriusannya, mantan Ketua DPRD Pelalawan tersebut mengambil langkah mengejutkan dengan menyumbangkan tanah pribadi seluas dua hekta di Jalan ring road PT RAPP, KM 12 Langgam. Di tanah wakaf itulah cikal bakal sumber energi listrik Pelalawan berupa PLTG akan dibangun. Pemilihan lokasi tersebut bukan sekedar berdasarkan kepemilikan pribadi, tetapi memang strategis. Berdekatakan dengan Seng Gate PT Kalila, perusahaan pengelola gas di Pelalawan.
Tanpa banyak ba bi bu, Bupati M Harris langsung mengambil langkah kongkrit. Di atas tanah yang sudah diwakafkannya tersebut langsung dituangkan bertruk-truk tanah kuning untuk menimbunnya. Kawasan yang semula agak bencah langsung rata dan memancarkan harapan. Secara tampilan fisik, mulailah sejumlah pihak yakin, di atas tanah tersebut bisa dibangun apa saja, termasuk PLTG Langgam.
Tapak PLTG sudah siap. Langkah selanjutnya, menggandeng pihak ketiga untuk dirangkul. Dijadikan satu tim untuk mewujudkan mimpi besar tersebut. Banyak investor yang diundang dan diberi penjelasan mengenai keuntungan bergabung bersama program Pelalawan terang. Sampai akhirnya, PT Navigate Energy tampil sebagai mitra utama melalui proses lelang yang transparan.
Lahan sudah siap dan investor tersedia. Ternyata perjalanan selanjutnya bukannya langsung mulus, melainkan ada kerumitan baru yang nyaris membuat semua usaha awal menjadi sia-sia. Prosedur pembelian gas ternyata tak semuda membeli bensin di SPBU. Banyak regulasi yang berbelit dan rumit. Terlebih ketika itu sedang ada masa peralihan lembaga pengelola industri migas. Dari Badan Pelaksana Usaha Hulu Migas (BP Migas) kepada Satuan Kerja Khusus kegiatan (SKK) Migas.
Dampaknya, PLTG Langgam yang semula ditargetkan akhir 2012 sudah menderum turbinnya dan membuat Pelalawan benderang, berjalan bagai siput. Perjanjian jual beli gas (PJBG) sudah dibicarakan antara Pemkab Pelalawan dan PT Kalila harus diulang ke pangkal kaji. Dari nol.
Ribetnya birokrasi pembelian gas sempat membuat Bupati M Harris pusing, namun ia terus menyemangati diri sendiri. Angka-angka yang dibicarakan mengenai harga PJBG kerap sulit disepakati, namun akhirnya tercapailah standar harga dunia sebagai patokan. Pemkab Pelalawan dan PT Kalila pun mencapai mufakat.
Kesabaran dan perjuangan Bupati M Harris pada ujungnya berbuah manis. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Barangkali itulah yang kini terjadi. Tertundanya proyek PLTG Langgam tak sepenuhnya negatif. Sisi positifnya, operasional pembangkit berkapasitas 15 megawatt (MW) tersebut bisa bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Pelalawan ke-14, 12 Oktober 2013.
Berlahan tapi pasti program 'Pelalawan Terang' mulai dinikmati masyarakat. Listrik dari PLTG Langgam mulai terdistribusi ke sejumlah wilayah kecamatan. Kini daerah tersebut tak sepenuhnya tergantung pasokan listrik dari RAPP.
Sudah cukup? Pasti belum. Karena itu, Bupati M Harris tak berhenti sampai PLTG Langgam sebagai kado hari jadi Kabupaten Pelalawan ke-14. Kini tengah dirancang PLTG baru dengan kapasitas jauh lebih besar. 50 megawatt. Lokasinya sedang ditimbun untuk tapak turbin. Hari ini dan masa depan Pelalawan tiada lagi cerita gelap dan krisis listrik. Tahniah Hari Jadi Kabupaten Pelalawan-ku. Semoga semakin diberkahi Allah. Amin.
sumber : riauterkini dot com

home
Home
Posting Komentar